Minggu, 13 April 2014

Persepsi

Bagaimana mungkin orang bisa mencintai kita jika hanya mengenal lewat dunia maya?


Kemarin seseorang menegur saya karena terlalu banyak men-share isu negatif partai politik tertentu.

Saya tertawa, 

Bagamana tidak? Dia menuduh dengan sangat halus. Memposisikan saya sebagai individu berpenyakit (hati). Nice. Saya cuma bisa tertawa.

Dalam hati saya menyusun penjelasan yang saya tahu: tidak perlu disampaikan pada siapapun.

Sudahlah. Saya enggan berdebat. 

Apa yang bisa kita percayai dari dunia maya?

Jika saya memposting foto ini:

Apakah  anda percaya bahwa ini adalah saya? Atau kakak perempuan saya yang sedang di Papua? Atau saudara kembar saya yang saat ini menetap di Turki?

Apa yang bisa anda percaya dari dunia maya?

Tidak ada.

Sabtu, 08 Februari 2014

Sama


Aku menggigil lagi. 

Terhitung sudah dua puluh tiga kali aku yang menunggunya di depan cafe ini jam sepuluh malam dan hujan. Menggigil ditelan atmosfer kutub. Padahal ini negara tropis.

Aku menghela napas berkali-kali. Aku bisa saja marah, tapi beruntung cuaca seperti ini selalu berhasil meredam amarah. Bahkan untuk sekedar membalas sms-nya dengan kata-kata tegas saja aku enggan. Mungkin inilah alasan dia memilih waktu dan tempat seperti ini untuk bertemu, agar hilang marahku, agar aku tetap menjadi putri yang manis, bukan seekor naga yang siap menyemburkan api.

Aku selalu tidak bisa marah karena dingin hujan seperti ini. Atau..? Mungkin karena perasaan lain?

Pernah?

Apa kau pernah jatuh cinta De?

Aku pernah.

Jika melupakan butuh waktu satu tahun, akan kujalani, De.
Tapi terkadang dua tahun... tiga... atau lebih, ingatan itu tetap di sana. Masih sama besarnya dengan rasa cinta.

Rabu, 28 Agustus 2013

Madu dan Kurma


Kuamati lagi pintu tokonya yang kecoklatan. Hening. Masih hening. Garasi yang biasanya ia buka pagi-pagi masih rapat terkunci. Si Gadis Kurma tepat lima hari tidak menampakkan diri. Tapi ini bukan jadwal mudik.

Desas desus ku dengar ia pulang ke Lombok, meneruskan toko Kurma warisan ayahnya. Pun menjaga ibunya yang sudah sakit-sakitan. Katanya ia sudah bosan berdagang di tepian Musi. Selain sepi pembeli, orangnya pun sulit diajak beramah tamah. Tapi aku tidak percaya. Dia masih punya janji yang harusnya lebih penting dari sepotong warisan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komunitas Blogger Muslim