Sabtu, 13 November 2010

Seni Rupa Prasejarah di Indonesia

Menurut Soekmono, zaman prasejarah Indonesia dibagi dalam:
     1. Zaman Batu
      Paleolithicum (zaman batu tua)
      Mesolithicum (zaman batu tengah)
      Neolithicum (zaman batu muda) 
2. Zaman Logam
      Zaman Tembaga
      Zaman Perunggu
      Zaman Besi
            Pada dasarnya logam memiliki banyak kelebihan seperti mudah dibentuk, tahan lama, lambat laun logam ini semakin menggeser benda-benda yang dibuat dari batu. Alat-alat dari batu akhirnya
berfungsi sebagai benda pusaka dan lambat laun kehilangan nilai praktisnya, hal ini lebih dikenal sebagai masa perundagian (Kusnadi dkk, 1971:8)
Manusia pendukung zaman ini adalah Pithecantropus, Homo Soloensis, Homo Wajakensis, Papua Melanesoide, Austronesia (indonesia).

Corak Peninggalan
            Secara umum Soedarso Sp. Menyatakan ada tiga corak seni rupa prasejarah Indonesia:
a. Corak Monumental
Terutama pada corak neolithicum, karya seni rupanya bercirikan:
      Tokoh nenek moyang diujudkan dalam bentuk tiga dimensional secara frontal
      Motif simbolik; kedok, pohon hayat, tanduk kerbau
      Irama garis bersudut-sudut, sederhana, kaku sehingga menimbulka kesan monumental
b. Corak Dongson
      Pengaruh dari daerah Tonkin China
      Dekoratif
      Kurang Simbolik
      Motif Hias: tumpal, spiral terdapat pada moko dan nekara
c. Corak Chow Akhir
      Tidak Simetris
      Garis irama (melengkung-lengkung memenuhi semua permukaan)
      Hanya terdapat di Kalimantan

Jenis Peninggalan 
a. Seni Lukis
Seni lukis adalah suatu pengucapan artistic yang ditumpahkan dalam bidang dua dimensional dengan menggunakan garis dan warna.
            Nenek moyang melukis pada dinding goa dimana mereka tinggal. Contoh di gua leang-leang, lukisan cap-cap tangan diperkirakan berumur 4.000 tahun. ada tradisi purba masyarakat setempat yang menyebutkan, gambar tangan dengan jari lengkap bermakna sebagai penolak bala, sementara tangan dengan empat jari saja berarti ungkapan berdukacita. Gambar itu dibuat dengan cara menempelkan tangan ke dinding gua, lalu disemprotkan dengan cairan berwarna merah. Sat pewarna ini mungkin  dari mineral merah (hematite) yang banyak terdapat di sekitar gua (di batu-batuan dan di dasar sungai di sekitar gua), ada pula yang mengatakan dengan batu-batuan dari getah pohon yang dikunyah seperti sirih.
   Selain itu ada lukisan babi hutan yang sedang diujudkan dengan garis-garis merah, terdapat bekas tonjokan benda tajam di lehernya. Motif yang lain adalah gajah, ular dan kerbau(tetonisme).   Hal ini dianggap oleh nenek moyang kita dapat menimbulkan kekuatan magis(dynamisme).
Karena kepercayaan yang variatif, maka timbulah:
Animisme
       (pemujaan batu/gunung sebagai simbol roh nenek moyang)
Dynamisme
      (kekuatan benda (lukisan/patung ) dan tumbuhan tertentu dianggap mempunyai kekuatan gaib)
Totemisme
       (binatang dianggap masih erat hubungannya dengan bangsa tertentu)
Manisme
      (arwah nenek moyang yang dipuja dengan upacara tertentu)
      contoh: selamatan atau kenduri dengan saji-sajian tertentu.

b. Seni Hias
Seni hias dimaksudkan untuk menambah keidahan dari karya yang diciptakan. Dari kegunaannya seni hias dibedakan menjadi:
      Hiasan Pasif, berfungsi hanya untuk menambah keindahan saja, contoh hiasan tempel dinding.
      Hiasan aktif, sebagai penambah kekuatan suatu bangunan (benda yang dihiasi) serta menambah keindahannya. Contoh tiang figure wanita.
      Hiasan Simbolis, sebagai lambing dan menambah keindahan. Contoh swastika dan bulan bintang
      Hiasan mekanis, disamping menambah keindahan juga mengandung ilmu pesawat atau ilmu alam. Contoh pangkal petir bentuk naga.

Pada zaman prasejarah seni hias banyak digunakan pada perabot rumah tangga, jimat dan sebagai alat upacara adat. Motif-motifnya diyakini mempunyai kekuatan magis.
            Pola hias geometris (garis, titik, bidang ke ilmu ukuran) adalah pola yang paling banyak digunakan. Pola yang lain adalah tumpal, meader, pilin berganda, swastika, pola-pola ini dinggap mengandung arti social, religious dan geografis. Pola hias lain aalah polygon, animal, vegetal, dan vigural.

c. Seni Kriya
1. Gerabah
Banyak ditemukan pada zaman neolithicum. Pembuatan gerabah masih sederhana dengan pola hiasan anyaman, toheran, garis-garis sejajar dan lingkaran. Perkembangan selanjutnya, masa perundagian, pola hias berkembang dari lingkaran memusat menjadi titik dan lengkungan, pola anyaman, tumpal dan tangga maupun meader.
2. Benda Perunggu
Zaman perunggu berlangsung kurang lebih 500 tahun SM. Teknik pembuatannya adalah a cire perdue (cetak hilang, hanya sesekali untuk mencetak). Contoh di Bali ditemukan cetak nekara dari batu. Yang dicetak dengan cetakan batu adalah nekara lilin, sedangkan nekara perunggunya dicetak dengan a cire perdue. Di jaman sekarang orang membuat cetakan yang dapat dipakai berkali-kali disebut bivalve (dua setangkup).
Perunggu berasal dari campuran tembaga dengan timah putih yang membuat perunggu lebih tahan lama disbanding dengan besi.
Contoh seni kriya logam perunggu:
      Kapak corong/ kapak sepatu
Kapak corong yang salah satu sisinya lebih panjang disebut candrasa.
      Nekara
Nekara adalah sejenis genderang perunggu tertutup bagian sisi atasnya, berpinggang tengah dan bertangkai. Nekara dianggap suci dan dipuja karena merupakan bagian bulan yang jatuh dari langit. Nekara yang ditemukan di Indonesia tidak semua berasal dari daratan Asia,tetapi ada pula yang berasal dari Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan penemuan cetakan nekara yang terbuat dari batu di desa Manuaba, Bali. Dan cetakan tersebut kini disimpan di dalam pure desa tersebut.

Seni Kriya Lainnya
Seni kriya zaman perunggu diantarannya; gelang, biggel, anting-anting, kalung, cincin dan bejana.
      Seni Bangun Megalithicum
Kemunculan seni bangun pada masa itu dipengaruhi oleh adat pemujaan roh nenek moyang, maka agar dapat berkomunikasi dengan roh nenek moyang yang dipujanya dibuat lambang-lambang tertentu seperti gambar, patung, kedok, menhir, dolmen, sakofah, keranda, punden berundak, kubur batu dan manik-manik.
Contoh Seni Bangun Megalithicum
      Menhir
Adalah tugu atau tiang batu yang didirikan sebagai tanda peringatan dan melambangkan roh nenek moyang sehingga menjadi benda pujaan (animisme).
      Dolmen
Adalah meja batu berkaki menhir sebagai meja saji untuk memuja roh nenek moyang dan sebagai tanda makam.
      Sarkofah atau Keranda
Berbentuk seperti palung/lesung bertutup berfungsi untuk mengubur mayat(peti kubur).
      Punden berundak-undak
Bangunan pemujaan yang disusun bertingkat dengan menhir atau patung yang diletakkan diatas guna memuja roh nenek moyang.
      Seni Patung atau Arca
Di zaman megalithicum akhir  contohnya adalah batu gajah, Cirinya adalah dinamis. Sedangkan menhir, dolmen, sarkofah merupakan gaya yang lebih tua(gaya monumental).
Benda lain yang berfungsi sebagai kepentingan sehari-hari, misalnya kapak perimbas/chooper, kapak penetak/chopping tool, pahat genggam/hand exe, proto kapak genggam/prtoto hand axe yang dibuat menggunakan bahan baku kaseldon, yapsis, kersikan, batu endap dan batuan tufa.
Kapak-kapak zaman Mesolithikum disebut “hache courte” atau kapak pendek yang banyak ditemukan di kjokkenmoddinger Sumatra Timur. 







6 komentar:

  1. wuaaaaahhhhhhhh....... ra ngajak-ajak iki.......

    BalasHapus
  2. Kita kan beda kelompok yoo...

    BalasHapus
  3. kk judul lagu nih apa sih?? di denger enk.. ^^
    minta judul lagunya dong

    BalasHapus
  4. Eh maaf baru kebaca koment nya..
    Lagu yang mana ya?

    BalasHapus
  5. nice article mas.. ijin copas tuk tugas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya monggo monggo,, semoga bermanfaat.
      jangan lupa cantumin sumber, nggak mau disebut plagiator kan?
      :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komunitas Blogger Muslim