Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Februari 2014

Pernah?

Apa kau pernah jatuh cinta De?

Aku pernah.

Jika melupakan butuh waktu satu tahun, akan kujalani, De.
Tapi terkadang dua tahun... tiga... atau lebih, ingatan itu tetap di sana. Masih sama besarnya dengan rasa cinta.

Selasa, 01 Januari 2013

TAK MASALAH ASAL ENGKAU NANTINYA BERHENTI TERTAWA



Ada yang boleh tertawa melihatku menapaki cabang jalan ini. Membalut sekujur tubuhku dengan kafan panjang. Menutup sebagian wajahku, tanpa senyum, tanpa tatapan. Membalur setiap nafasku dengan sembilan puluh sembilan minyak mutiara. Angin, malam, laut, dan senja. Kata leluhur: hidup adalah pilihan.

Aku bosan dengan cacian. Tertawa sajalah. Aku jengah melihat kau mencibir saat berada sejengkal dari hidungmu, atau di belakang punggungmu. Ya, tertawa saja, saat kuelukan mimpi-mimpi syurga. Tentang sungai, tentang susu, tentang kasturi, tentang cabang-cabang kurma berbuah emas. Atau tentang segenggam bara dan api?

Senin, 06 Juni 2011

Dia Seharusnya

Dia Seharusnya



Dia hanya seorang laki-laki, bertulang tak berdaging
yang menjual peluh dalam gulatan debu.
Lalu apa?

Selasa, 31 Mei 2011

Hanya pada Yundaku

Hanya pada Yundaku



Yunda…
Kukisahkan sebuah rasa yang tahu hanya kita saja

Telah kutulis namamu
Dalam bait-bait sajak tak bernama
Dalam tetes-tetes asa yang tersisa
Tentang masa saat kita bertangisan karena rasa
Atau tentang rona yang tercipta saat kita malu-malu berkisah tentang cinta

Minggu, 06 Maret 2011

Laki-Laki Bernama Adam

Maaf,
Telah kusisihkan hatiku pada seseorang bernama Adam.
Pada laki-laki bersimpul indah di pipi, seperti daun yang terpesona pada embun, langit biru pada cirrus yang lembut. Getar suaranya merasuk saat memanggilku "Hawa..."
Tapi aku takut pada hembusan angin yang berbisik, Tuhan melirik. Bukan, bukan haram bagiku, hanya memang dia belum halal. Entah apakah dia adalah engkau, atau bukan.

Sabtu, 13 November 2010

Cerita Rakyat


Sore itu, antara panasnya kemarau di bulan Mei.
Aku duduk di bawah pohon rambutan yang daunnya kering menguning.
Ella datang lalu duduk tepat di sampingku.
“ Ada apa gerangan? Wajahmu seperti seragam belum di setrika?”
“ Aku dimarah ibu karena minyak.”
“ Aneh, bukankah lebih baik ibumu berdemo di depan istana.
Aspirasinya akan lebih didengar.”

Minggu, 24 Oktober 2010

Kita

Menikah lagi?

Menghapus kenangan tentangmu, takkan semudah itu. Bagaimana aku akan lupa saat pertama kali kita bersua, masa-masa berisi senyum termanis kita, detik kau kecup keningku pertama kali tanda hati kita telah satu, air mata meleleh di pipimu saat kau kumandangkan azdan di telinga kecil buah hati kita, mengisi liburan dengan berkisah berbagi keluh berbagi tawa, saat aku tidur di sisimu di malam-malam sulit itu. Hingga detik terakhir...

Bagaimana mugkin aku bisa...
Bagaimana mungkin...

Namamu, bayangmu, selalu di sini... Di hatiku..
Menjadi penguatku untuk menempuh hidup, membimbing anak-anak kita hingga dewasa...

Aku mencintaimu...

(fillah...)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komunitas Blogger Muslim